Sering terjadi perdebatan yang begitu hangat ketika membahas atlet perlu pendidikan tinggi atau tidak. Pasalnya di Indonesia sendiri, atlet memang kebanyakan sebatas sampai Sekolah Menengah Atas saja. Itu juga lulus dengan penuh perjuangan. Karena bila mereka sudah menekuni bidang olahraga dari kecil, akan sering meninggalkan kelas.

Para atlet yang mendapat binaan sedari kecil, misalnya SMP hingga SMA dan masuk pada Pelatnas, akan sulit membagi waktunya dengan sekolah. Akibatnya, sering absen dan alasan mengejar latihan untuk persiapan pertandingan. Sekolah di sini, justru sangat memperbolehkannya, karena bila mereka menang, nama sekolah akan terangkat.
Tapi pernahkah berpikir bahwa sebenarnya pendidikan itu penting dan wajib. Entah telah ada jaminan sukses menjadi atlet, pendidikan tetap nomor satu. Hanya saja, beberapa mengatakan bahwa pelajaran di sekolah, tidak ada hubungannya pada bidang olahraga yang mereka geluti.
Hingga sekarang memang masih ada pro serta kontra mengenai pendidikan dengan karier seorang atlet. Maka dari itu, di sini kami akan membahasnya dengan jelas dan sederhana. Karena pada kenyataannya, atlet dengan wawasan minim itu ada banyak dan ini menjadi suatu hal cukup serius.

Seberapa Penting Peran Pendidikan Bagi Atlet?
Melihat kebelakang pada tahun 2016 di mana Intan Ahmad, seorang Dirjen Dikti mengatakan bahwa tidak mungkin ada seorang olahragawan memiliki wawasan luas yang berasal dari mahasiswa.
Kenapa beliau mengatakan demikian? Karena Mahasiswa yang mengikuti perlombaan olahraga entah di tingkat mana saja, mereka akan lebih mementingkan latihan daripada jadwal kuliahnya secara rutin.
Tidak hanya dari tingkat mahasiswa saja, bahkan atlet SMA yang sudah mendulang banyak penghargaan pada cabang olahraga yang digelutinya, sudah berpikiran bahwa kuliah tidak penting dan lebih memilih konsentrasi pada bidang olahraganya itu.
Menurut Intan Ahmad, ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi bagi atlet itu sangat penting dengan beberapa alasan, yaitu :
- Karier dari atlet tidak berlangsung lama, apabila menempuh pendidikan tinggi, nantinya mereka bisa menemukan pekerjaan dengan mudah dan modal riwayat sekolahnya itu.
- Memiliki wawasan cukup luas sehingga tidak hanya tahu tentang cabang olahraga yang digelutinya, mereka akan paham berbagai bidang.
- Mampu beradaptasi dengan mudah apabila berakhir mengambil bidang lain setelah selesai tugasnya sebagai atlet.
Pelu diketahui juga, di beberapa negara maju, olahragawan berbakat dan profesional, mereka berasal dari kampus atau universitas ternama. Sebenarnya dari kesimpulan ini, seorang olahragawan bisa dikata sukses pada dua bidang, yaitu pendidikan dan olahraga saat mereka bisa membagi waktunya dengan baik.
Beberapa Alasan Pendidikan Atlet Hanya Sebatas SMA
Sebenarnya, ini sudah menjadi pembahasan yang begitu serius, karena kebanyakan olahragawan saat ini, kebanyakan tamatan SMA saja. Apabila ada yang meneruskan ke perguruan tinggi, lebih memilih pensiun dan fokus akan pendidikannya di universitas.
Padahal seorang atlet masih terus berkarier hingga umur dewasa tidak masalah, asalkan masih memiliki kekuatan fisik bagus. Maka, jangan menanyakan lagi apakah atlet perlu untuk menempuh pendidikan yang tinggi atau tidak, jawabannya penting. Kuncinya, membagi waktu dengan baik.
Peran orang tua juga penting, terlebih lagi bila bakat sudah terlihat dai kecil, orang tua wajib mementingkan keduanya. Jangan karena bidang olahraga lebih menonjol, sekolah dilupakan begitu saja.
Menurut data analisis pada atlet Asean Games 2018 dikatakan bahwa dari 286 atlet, hanya 68 orang berpendidikan hingga S1 sementara 214 hanya sampai jenjang Sekolah Menengah atas. Kenapa bisa demikian? Beberapa alasan dari Liliyana Natsir ini, mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut.
- Butet atau Liliyana Natsir pemenang emas bulu tangkis di Rio de Jeneiro 2016 mengatakan bahwa bila dia dulu meneruskan kuliah, maka akan terpecah-pecah waktunya antara latihan dan juga kuliah. Jadinya nanti malah setengah-setengah.
- Selain itu, porsi latihan dai Pelatnas dari pagi dan sore, tenaganya sudah sangat terkuras. Akan sangat melelahkan bila ditambah kuliah serta mengerjakan tugas dari kampus.
- Atlet sebenarnya pintar, menurut Butet, pebulu tangkis IQnya bagus karena haus memutuskan sesuatu dengan cepat, hanya beberapa detik saja.
- Olahragawan menurut Butet tidak akan kalah dari orang lulusan S1 atau S2, itu tergantung dari diri masing-masing.
Sebenarnya para olahragawan memandang urgensi pendidikan di tengah-tengah kerja kerasnya dalam karier tersebut berbeda-beda. Tidak sedikit juga mereka yang masih mementingkan pendidikannya.
Terbukti juga bahwa 68 orang peserta Asean Games lulusan S1 dan pada tahun 2016, para mahasiswa mengikuti ajang olahraga persahabatan dengan Malaysia. Jadi, seorang olahragawan juga banyak mengenyam bangku kuliah.
Peran Orang Tua Dalam Menanggapi Pendidikan Anaknya yang Atlet
Melihat bagaimana atlet memerlukan pendidikan yang tinggi, sudah harus diatur sejak dini dengan peran orang tua harus mendominasi. Seorang anak mungkin sekarang senang dengan aktivitas olahraganya.
Zaman sekarang, sudah banyak berbagai jenis profesi dan atlet merupakan profesi cukup menguntungkan saat ini, karena pemerintah sudah menjamin kesejahteraan mereka. Profesi di bidang olahraga ini masuk pada kategori keterampilan atau keahlian. Karena harus melewati masa pelatihan panjang hingga menjadi pemain profesional.
Saat seorang anak dimulai dari sekolah Dasar sudah ada ketertarikan dengan salah satu cabang olahraga, sebaiknya orang tua wajib mendukungnya karena ini adalah hal positif, caranya dengan :
- Membuat jadwal anak. Meski telah dimasukkan ke klub, bukan berarti lebih condong ke klub dan sekolah dilupakan. Orang tua harus mengatur jadwal antara dua kegiatan tersebut agar tidak tumpang tindih.
- Menjaga kesehatan anak karena kegiatan rutinnya mulai bertambah dengan adanya latihan cabang olahraga yang digelutinya.
- Biaya masuk klub cabang olahraga itu tidak murah, maka sebagai orang tua mendukung kegiatan buah hatinya ini, harus menyiapkan anggaran tambahan agar mampu menggapai mimpinya.
- Dan terakhir, selalu menyiapkan mental anak ketika menghadapi kompetisi agar semangat serta tidak down apabila kalah.
Terobosan Agar Atlet Terjamin Pendidikannya
Apabila Anda bingung mau memilih antara sekolah dengan latihan atlet yang ditekuninya, ada terobosan bagus yang direkomendasikan oleh pemerintah, yaitu dengan mengikuti Sekolah Olahragawan (SKO) Kemenpora.
Dimulai dari pendidikan SMP hingga SMA, di sekolah ini nantinya Anda akan merima binaan bedasarkan cabang olahraga yang menjadi bakatnya sekaligus menerima pelajaran sekolah biasa. Akan tetapi di SKO ini memang paling ditonjolkan pendidikan ketrampilan olahraga.

Tidak dianjurkan bagi olahragawan pemula, karena akan berpengaruh pada prosesnya. Pemula itu bisa langsung gugur pada saat seleksi berkas dan tidak dapat melanjutkan seleksi berikutnya. Siswa diterima memang harus menjalani pemilihan ketat hingga diterima di sekolah ini.
Cabang olahraganya juga sangat banyak. Pilih saja sesuai bakat dan minat Anda, nanti akan ada trainer profesional yang membantu untuk meningkatkan kemampuan main dan juga menjaga prestasinya hingga menggapai mimpinya sebagai seorang atlet profesional.
Diketahui juga, sistem pendidikan di SKO itu asrama. Anak didiknya tidak boleh pulang ke rumahnya karena proses latihannya lama dan harus sering dikontrol oleh para guru. Siswa di sini juga akan mudah mendapatkan jalur untuk mengikuti kompetisi nasional hingga internasional.
Ingat, tidak ada olahragawan bodoh. Mereka hanya mengikuti passionnya saja. Setidaknya, kerja keras mereka sudah terbayarkan dengan prestasi dan bonus berlimpah. Hanya saja, tetap ingat pentingnya atlet perlu pendidikan tinggi ketika sudah pensiun dari dunia olahraga.